![]() |
| George C. Homans |
Oleh : AFIFUDDIN,S.Pd
BAB I
PENDAHULUAN
George C. Homans adalah seorang sosiolog Inggris (1910-1989) yang merupakan pemikir “A Theory of Elementary Social Behavior”, yang mendasari pemikirannya mengenai pertukaran perilaku dalam interaksi sosial.
Semula George C. Homans tidak menaruh perhatian masalah pertukaran sosial dalam mengadakan pendekatan terhadap masyarakat karena pada awalnya Ia mengarahkan perhatian pada “pendekatan fungsionalisme structural”. Pendekatan fungsionalisme struktural ternyata mempunyai arti yang sangat penting karena mampu memberi masukan terhadap teori sosiologi. Terutama dalam hubungannya dengan struktur, proses dan fungsi kelompok sebagaimana tercantum dalam bukunya yang berjudul “The Human Group”. Menurut pendapatnya analisis fungsionalisme struktural mempunyai manfaat untuk menemukan dan memberikan uraian, akan tetapi pendekatan tersebut tidak mampu menjelaskan. Selanjutnya, berhubung pendekatan fungsionalisme struktural itu tidak dapat menjelaskan berbagai macam hal, maka menurut pendapatnya dianggap sebagai suatu kegagalan.
Berhubung “pendekatan fungsionalisme structural” dianggap gagal dalam memberikan fenomena-fenomena baru yang muncul dalam interaksi sosial di masyarakat, maka Ia berusaha menyempurnakannya dengan prinsip-prinsip “pertukaran sosial”. Berkenaan dengan hal tersebut, maka Ia tinggalkan pendekatan fungsionalisme struktural dan selanjutnya menyatakan tentang pentingnya pendekatan psikologi dalam menjelaskan gejala-gejala sosial.
Menurut Homans dengan psikologi dapat dijelaskan mengenai faktor yang menghubungkan sebab dan akibat. Dalam hal yang menghubungkan antara sebab dan akibat hanya dapat dijelaskan oleh proposisi psikologi melalui “pendekatan perilaku”. Perlu diketahui bahwa George C. Homans menyatakan bahwa psikologi perilaku sebagaimana diajarkan oleh B.F. Skinner dapat menjelaskan “pertukaran sosial”.
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI “PERTUKARAN SOSIAL” DALAM INTERAKSI SOSIAL OLEH GEORGE C. HOMANS
Teori “pertukaran sosial” adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap: (1) Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu dan (2) Jenis hubungan yang dilakukan.
Salah satu tokoh yang mempopulerkan konsep pertukaran sosial dalam interasi sosial adalah George C. Homans. Menurut Homans “interaksi sosial” adalah suatu proses hubungan timbal balik yang dilakukan oleh individu dengan individu, antara indivu dengan kelompok, antara kelompok dengan individu, antara kelompok dengan kelompok dalam kehidupan sosial. Dalam hal ini, “Resiprositad” (hubungan timbal balik) adalah konsep sentral teori Homans.
Homans membatasi analisisnya pada jenjang sosiologi mikro. Teori-teori pertukaran sosial juga memiliki beberapa asumsi yang sama mengenai hakekat interaksi sosial. Perlu diketahui juga disini bahwa baik Homans maupun tokoh-tokoh lainnya menilai analisisnya pada proses interaksi.
Teori-teori pertukaran sosial itu dilandaskan pada prinsip “transaksi ekonomis yang elementer (mendasar) dan interaksi sosial itu mirip dengan transaksi ekonomi”. Dalam teori pertukaran sosial menekankan adanya suatu konsekuensi dalam pertukaran baik yang berupa ganjaran materiil berupa barang maupun spiritual yang berupa pujian.
Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran sosial adalah “distributive justice” yaitu aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi : “seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya. Semakin tinggi pengorbanan, maka semakin tinggi imbalannya dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya. Semakin tinggi investasi, maka semakin tinggi keuntungan”. Inti dari teori pertukaran sosial adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.
Selanjutnya untuk terjadinya pertukaran sosial harus ada persyaratan yang harus dipenuhi. Adapun syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Suatu perilaku atau tindakan harus berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat tercapai lewat interaksi dengan orang lain
2. Suatu perilaku atau tindakan harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan-tujuan yang dimaksud. Adapun tujuan yang dimaksud dapat berupa ganjaran atau penghargaan intrinsik yakni berupa pujian, kasih sayang, kehormatan dan lain-lainnya atau penghargaan ekstrinsik yaitu berupa benda-benda tertentu, uang dan jasa.
Selanjutnya akan dijelaskan secara rinci tentang konsepsi-konsepsi tentang teori pertukaran sosial dalam interaksi sosial oleh George C. Homans, sebagai berikut :
A. Proposisi Proses Pertukaran Sosial
Perlu diketahui bahwa Homans menyatakan bahwa psikologi perilaku sebagaimana diajarkan oleh B.F. Skinner dapat menjelaskan pertukaran sosial. Dalam karya teoritisnya, Homans membatasi diri pada interaksi kehidupan sehari-hari. Namun, jelas ia yakin bahwa sosiologi yang dibangun berdasarkan prinsip yang dikembangkannya akhirnya akan mampu menerangkan semua perilaku sosial. Berdasarkan dari pemikirannya terhadap Skinner, Homans mengambangkan beberapa proposisi antara lain adalah:
a) Proposisi Sukses
Ada beberapa hal yang ditetapkan Homans menganai proposisi sukses, antara lain : Pertama : Meski umumnya benar bahwa makin sering hadiah diterima menyebabkan makin sering tindakan dilakukan, namun pembahasan ini tak dapat berlangsung tanpa batas. Di saat individu benar-benar tak dapat betindak seperti itu sesering mungkin; Kedua : Makin pendek jarak waktu antara perilaku dan hadiah, maka makin besar kemungkinan orang mengulangi perilaku, dan begitu pula sebaliknya:; Ketiga : Pemberian hadiah secara intermiten lebih besar kemungkinannya menimbulkan perulangan perilaku ketimbang menimbulkan hadiah yang teratur. Hadiah yang teratur menimbulkan kejenuhan dan kebosanan, sedangkan hadiah yang diterima dalam jarak waktu yang tidak teratur sangat mungkin menimbulkan perulangan perilaku.
b) Proposisi Stimulus (Pendorong)
Homans tertarik pada proses generalisasi dalam arti kecenderungan memperluas perilaku keadaan yang serupa. Individu mengkin hanya akan melakukan sesuatu dalam keadaan khusus yang terbukti sukses di masa lalu. Bila kondisi yang menghasilkan kesuksesan itu terjadi terlalu ruwet maka kondisi serupa mungkin tidak akan menstimulasi perilaku.
c) Proposisi Nilai
Disini Homans memperkenalkan konsep hadiah dan hukuman. Hadiah adalah tindakan dengan nilai positif, dimana semakin tinggi nilai hadiah maka semakin besar kemungkinan mendatangkan perilaku yang diinginkan. Hukuman adalah tindakan dengan nilai negatif, dimana semakin tinggi nilai hukuman berarti semakin kecil kemungkinan individu mewujudkan prilaku yang tak diinginkan. Homans menemukan bahwa hukuman merupakan alat yang tidak efisien untuk membujuk orang mengubah perilaku mereka karena orang dapat bereaksi terhadap hukuman menurut cara yang tak diinginkan.
d) Proposisi Deprivasi-Kejenuhan
Dalam hal ini Homans mendefinisikan dua hal penting, yaitu biaya dan keuntungan. Biaya tiap prilaku didefinisikan sebagai hadiah yang hilang karena tidak jadi melakukan sederetan tindakan yang direncanakan. Keuntungan dalam pertukaran sosial dilihat sebagai sejumlah hadiah yang lebih besar yang diperoleh atas biaya yang dikeluarkan. Yang terakhir ini menyebabkan Homans menyusun kembali proposisi kerugian-kejemuan sebagai berikut: “Makin besar keuntungan yang diterima seseorang sebagai hasil tindakannya, makin besar kemungkinan ia melaksanakan tindakan itu”.
e) Proposisi Persetujuan-Agresi
Konsep ini mengacu kepada keadaan mental. Homans mengatakan “bila seseorang tak mendapatkan apa yang ia harapkan, maka ia akan menjadi kecewa, frustasi dan menyebabkan prilaku agresif”.
B. Asumsi-Asumsi Dasar Dalam Memahami Prilaku
Homans memiliki asumsi dasar yang penting dalam memahami prilaku, yaitu :
a) Individu yang terlibat dalan interkasi akan memaksimalkan rewards (hadiah/ganjaran).
b) Individu memiliki akses untuk informasi mengenai sosial, ekonomi, dan aspek-aspek psikologi dari interkasi yang mengizinkan mereka untuk mempertimbangkan berbagai alternatif.
c) Individu bersifat rasional dan memperhitungkan kemungkinan terbaik untuk bersaing dalam situasi menguntungkan.
d) Individu berorientasi pada tujuan dalam sistem kompetisi bebas.
e) Pertukaran norma budaya.
C. Format Dan Unit Analisis Perilaku Sosial
Teori dari Homans ini analisis dasarnya ialah face-to face pertukaran sosial antar dua individu, dengan konsep prinsip-prinsip ekonomi. Dua orang individu yang mengadakan interaksi akan selalu mementingkan keuntungan dan meminimalkan kerugian. Atau juga sering disebut memaksimalkan profit dan meminimalkan loss.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jika dikaji secara kontekstual, teori interaksi sosial oleh George C. Homans tentang “pertukaran sosial” memandang hubungan antara individu satu dengan individu lain sebagai suatu transaksi bisnis. Individu satu berhubungan dengan individu lain karena mengharapkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya.
Landasan berfikir yang mendasari analisis teori Homans tersebut adalah bahwa setiap individu dengan senang hati menjalin suatu hubungan sosial selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya yang akan dikeluarkan.
Secara umum hubungan sosial terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, maka individu satu dengan individu lainnya mempunyai hubungan psikologis yang saling mempengaruhi dalam hubungan tersebut, yang terdapat unsur ganjaran, biaya, keuntungan, dan perbandingan. Ganjaran merupakan segala hal yang diperoleh melalui adanya pengorbanan (biaya yang dikeluarkan). Misalnya tercermin pada pola-pola perilaku individu di dalam kelas, di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan, dan lain-lain.
Hal tersebut di atas, dapat dianalogikan misalnya pada suatu ketika kita merasa bahwa setiap teman yang ada di dalam kelas selalu berusaha memperoleh sesuatu dari kita dan pada saat itu pula kita selalu bisa memberikan apa yang mereka butuhkan, dan juga sebaliknya kita pasti akan membutuhkan sesuatu dari mereka.
Dari analogi di atas, maka timbul suatu asumsi bahwa “setiap individu menjalin pertemanan dengan individu lain, tentunya mempunyai tujuan untuk saling memperhatikan satu sama lain”. Setiap individu pasti berharap untuk dapat melakukan sesuatu bagi sesamanya, seperti saling membantu tatkala dibutuhkan, dan saling memberikan dukungan dikala sedih. Akan tetapi mempertahankan hubungan persahabatan itu juga membutuhkan biaya tertentu, seperti hilangnya waktu dan energi serta tertundanya kegiatan-kegiatan yang hendak kita laksanakan. Meskipun biaya-biaya ini tidak dilihat sebagai sesuatu hal yang mahal atau membebani ketika dipandang dari sudut penghargaan (reward) yang didapatkan dari persahabatan tersebut, namun biaya tersebut harus dipertimbangkan apabila kita menganalisa secara obyektif hubungan-hubungan transaksi yang ada dalam persahabatan itu. Apabila biaya yang dikeluarkan terlihat tidak sesuai dengan imbalannya, maka yang akan terjadi justru perasaan tidak nyaman pada diri kita yang menerima imbalan tersebut. Kita akan merasa bahwa imbalan yang diterima itu terlalu rendah dibandingkan dengan biaya atau pengorbanan yang sudah diberikan.
Dari uraian-uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial disini diartikan sebagai proses pertukaran sosial antara dua atau lebih dengan memperhitungkan untung-rugi dari hubungan tersebut. disamping itu, terdapat empat konsep pokok yang terkandung dalam kajian pertukaran sosial, yaitu : (1) Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, dukungan, pujian, dan lain-lain; (2) Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, energi, dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan; (3) Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa dalam suatu hubungan interpersonal, ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Misalnya, kita mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Kita banyak membantunya, tetapi hanya sekedar upaya persahabatan. Bantuan kita (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai pertukaran sosial, hubungan kita dengan sahabat pelit itu mudah sekali retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain; (4) Tingkat Perbandingan menunjuk pada ukuran baku yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu.
B. Kritik Dan Saran
Setelah dianalisis secara mendalam, teori yang dikemukakan oleh George C. Homans bahwa “interaksi sosial” diartikan sebagai proses pertukaran sosial antara dua atau lebih individu berdasarkan perhitungan ganjaran, biaya, keuntungan, dan perbandingan (berdasar pada perbandingan untung-rugi).
Walaupun kebanyakan para ahli mengatakan hal yang serupa, namun disisi lain penulis secara pribadi kurang setuju dengan pendapat tersebut, dengan sebuah asumsi bahwa “tidak selamanya prilaku manusia dalam berinteraksi mempertimbangkan suatu proses pertukaran sosial yang berorientasi pada pertimbangan untung-rugi. Disisi lain ada juga individu yang memiliki persepsi bahwa interaksi diartikan sebagai suatu hubungan sosial yang dilandasi oleh keikhlasan dan ketulusan untuk membangun suatu komunikasi yang utuh dan kontinuitas dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kewajiban pokok individu sebagai makhluk sosial layaknya kebutuhan akan makan dan minum untuk bertahan hidup”.
Inti dari asumsi di atas adalah pentingnya “keikhlasan dan ketulusan” individu dalam berhubungan disamping pertimbangan untung-rugi (pertukaran sosial). Keikhlasan dan ketulusan dilandasi dengan tidak adanya unsur perbandingan antara hasil yang di dapatkan dengan biaya yang dikeluarkan dalam interaksi. Hal tersebut dapat dianalogikan sebagai berikut : “misalnya ketika teman kita membutuhkan bantuan yang pada saat itu hanya kita yang dapat membantunya, maka dengan kebesaran hati, kita membantunya tanpa ada pertimbangan dan berharap sedikitpun di hati untuk mendapat ganjaran atas apa yang kita lakukan tersebut”.
Manfaat yang dapat dirasakan dari adanya keikhlasan dan ketulusan dalam berhubungan yaitu kita akan terhindar dari perasaan tidak nyaman di hati, di saat apa yang kita lakukan tersebut tidak mendapat ganjaran apapun.
Sebagai bahan penjelasan yang lebih konkrit dari pentingnya keikhlasan dan ketulusan dalam berinteraksi, maka dalam hal ini penulis akan menjelaskan dari tiga sudut pandang yang berhubungan dengan bentuk-bentuk interaksi sosial yang dikaitkan dengan deskripsi interaksi yang penulis amati dan rasakan langsung.
a) Interaksi individu dengan dirinya sendiri
Manusia merupakan makhluk sosial. Individu harus mampu membangun hubungan dengan sesamanya. Namun, sebelum individu mampu membina hubungan dengan individu lain, individu harus memperhatikan keadaan dirinya terlebih dahulu dan membina hubungan baik dengan dirinya sendiri. Artinya, individu harus mampu memperlakukan dan “menilai dirinya” secara obyektif.
Penilaian diri merupakan kunci untuk mencapai jiwa yang sehat. Penilaian diri adalah citra diri, yaitu bagaimana individu memandang dirinya sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan cara berfikir, berperan, dan bertindak.
Berhubungan dengan cara berfikir, maka dalam pembahasan ini penulis membatasi gambaran mengenai interaksi individu dengan pribadinya dalam hal belajar.
Selama ini, banyak teman-teman beranggapan bahwa belajar itu prioritasnya adalah untuk mendapatkan nilai yang baik. Mereka rela melakukan apapun demi nilai tersbut, bahkan sampai mempopulerkan budaya plagiat. Bagi penulis pribadi, itu persepsi yang benar-benar salah. Ada hal lain yang harus lebih diarahkan yaitu ikhlas dan tulus belajar semata-mata ingin mencapai “exellent” (sesuatu yang sempurna).
Ikhlas dan tulus dalam belajar dapat dianalogikan : “ketika seorang siswa/mahasiswa belajar secara berkesinambungan dengan kesadaran demi mencapai kesempurnaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasainya”.
Berhubungan dengan hal tersebut di atas, penulis terinspirasi dengan kata-kata salah seorang aktor Bolywood yang bernama Amir Khan dalam filmnya yang berjudul “Three Idiot”, yang mengisahkan tentang persahabatan tiga mahasiswa Imperial College Enginerring (ICE) yang kocak dan iseng terhadap dosen-dosen dan teman-teman di kampusnya. Jika diintisarikan, film tersebut tidak hanya mengisahkan tentang persahabatan saja, disisi lain lebih-lebih menjelaskan tentang teori-teori belajar seorang mahasiswa. Yang membuat penulis terkesan dengan film tersebut adalah teori-teori belajar yang dikemukakan oleh Amir Khan atau dalam film tersebut dipanggil “Rancho” kepada kedua teman dekatnya yaitu “Raju” dan “Farhan” . Ia mengatakan bahwa “kesuksesan tidak perlu dicari, belajarlah dengan tidak semata-mata untuk mendapatkan nilai melainkan kebesaran jiwa dan kesempurnaan, maka kesuksesan akan mendatangimu”.
Sejalan dengan teori di atas, penulis juga berasumsi bahwa “Kepintaran tidak dapat di ukur dari nilai-nilai semata, karena kepintaran yang sebenarnya adalah dari hati. Bagaimana seseorang hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya”. Berhubungan dengan kesuksesan, menurut penulis : “Manusia dapat dianalogikan sebagai api unggun dan kayu-kayu adalah ilmu yang dimilikinya, untuk membesarkan api maka dibutuhkan kayu-kayu yang banyak”.
b) Interaksi individu dengan individu lain
Dalam hal ini, penulis akan menjelaskan bagaimana proses interaksi personal di antara teman-teman di dalam kelas.
Secara kronologis, penulis dengan teman-teman sudah bersama lebih kurangnya tiga tahun. Tapi selama itu, penulis tidak pernah merasakan ada teman yang ikhlas dan tulus dalam berhubungan. Mereka cendrung ingin berhubungan dengan pihak lain jika ada maunya atau ada ganjaran-ganjaran tertentu yang di dapatkan dari hubungan tersebut.
Analoginya seperti ini : “ketika ada tugas yang diberikan oleh dosen, maka teman-teman yang merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas tersebut, akan mengadakan pendekatan dan berhubungan sosial dengan teman-teman yang dirasa mampu untuk membantunya, tapi setelah tugas tersebut selesai maka selesai pula hubungan tersebut”. Dalam hal ini, yang paling bisa melakukan hal tersebut adalah wanita. Apalagi jika wanita tersebut berpenampilan menarik, maka dengan mudah Ia bisa mensugesti lawan jenisnya untuk mengerjakan apa yang diinginkan.
Disisi lain, penulis sangat heran, mengapa hubungan harus cendrung diarahkan pada hal-hal yang menguntungkan saja. Apakah kehidupan kota memang seperti itu atau ketulsan adalah salah satu hal yang mahal untuk di dapatkan di kota ini ?.
Memang sulit untuk mengimpretasikan problema di atas, tapi yang pasti penulis kurang setuju dengan pola prilaku tersebut. Sebenarnya apa salahnya jika menjalin hubungan dengan ikhlas dan tulus. Padahal dengan ikhlas dan tulus suatu hubungan akan lebih harmonis dan individu- indiividu yang berhubungan secara berkesinambungan akan dengan mudah bisa saling mengisi. Disisi lain juga akan menghindari ilfil (ilang filling) diantara individu-individu yang berhubungan
c) Interaksi antara individu dengan kelompoknya
Dalam hal ini penulis akan diprioritaskan pembahasan pada bagaimana interaksi individu dengan organisasinya.
Berhubungan dengan organisasi, ketika individu masuk ke organisasi, banyak yang berambisi bahwa tujuan utama masuk ke organisasi adalah “mencari hidup” dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan. Padahal menurut penulis yang paling penting dari itu adalah “menghidupkan” yang dalam hal ini berarti membangun dan mengembangkan kualitas organisasi.
Maka dari itu, interaksi individu dengan organisasinya harus berdasar pada konsep keikhlasan yang semata-mata untuk menghidupkan organisasinya bukan sekedar ambisi untuk mencari hidup. Hal tersebut akan teraplikasikan dalam usaha-usaha yang diprioritaskan pada jalur membangun dan mengembangkan kualitas organisasi. Manfaatnya, “Secara logika kita berpikir jika organisasi sudah hidup maka otomatis kehidupan dari para anggotanya akan jauh lebih baik”.
Berdasarkan pembantahan terhadap teori pertukaran sosial dalam interaksi sosial oleh George C. Homans, maka dalam hal ini penulis akan memberikan saran sebagai catatan yang harus diingat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi teman-teman di dalam kelas pada khususnya. Adapun saran-saran tersebut, yaitu sebagai berikut :
a) Jangan pernah belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang baik, belajarlah semata-mata untuk mencapai kesempurnaan.
b) Jangan pernah ada anggapan bahwa hubugan personal terjalin semata-mata karena ada timbal balik atau ganjaran tertentu yang akan didapatkan.
c) Ketika individu bergabung dalam organisasi, jangan terlalu berambisi bahwa tujuan utamanya adalah untuk mencari hidup, tetapi prioritaskanlah usaha-usaha yang dilakukan dalam organisasi semata-mata untuk menghidupkan organisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar