MEMAHAMI BERBAGAI
HIKAYAT DAN NOVEL
Post By AFIFUDDIN,S.Pd
A. Hikayat (Sumber : http://liandydy.wordpress.com/)
1. Pengertian Hikayat
Hikayat adalah karya sastra melayu lama yang
berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, silsilah raja-raja,
biografi, atau gabungan dari semuanya.
2. Ciri-ciri Hikayat
a. Isi cerita berkisar pada
tokoh-tokoh raja dan keluarganya (istana sentris)
b. Bersifat pralogis, yaitu
mempunyai logika tersendiri yang tidak sama dengan logika umum, ada juga yang
menyebut fantastis
c. Menggunakan banyak bahasa
kiasan
d. Banyak kata-kata yang sulit
dipahami
e. Struktur kalimatnya tidak
efektif
3. Unsur-Unsur Instrinsik Dan
Ekstrinsik Hikayat
Karya
sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud ialah
unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun
sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra,
seperti : tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latar dan pelataran,
dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang menyusun
sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan
lain-lain.
a. Unsur Instrinsik
1) Tema dan Amanat
Tema ialah persoalan yang menduduki tempat
utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan
menjadi persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol. Sedangkan amanat
ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya
sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi makna niatan dan
makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya
sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makna yang termuat dalam karya
sastra tersebut.
2) Tokoh dan Penokohan
Tokoh
ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa
tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang
sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh
adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).
Tokoh
datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik saja atau
buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat.
Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya,
kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.
Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert
ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh
ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya.
Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis
ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena
sifat-sifatnya.
Penokohan
atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa
cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara
langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh
tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak
secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau
penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
Dialog
ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh. Dualog ialah cakapan
antara dua tokoh saja. Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan
yang sedang terjadi. Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa
yang akan terjadi.
3) Alur dan Pengaluran
Alur
disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab
akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh. Alur terdiri atas
beberapa bagian:
a) Awal, yaitu pengarang mulai
memperkenalkan tokoh-tokohnya.
b) Tikaian, yaitu terjadi
konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
c) Gawatan atau rumitan, yaitu
konflik tokoh-tokoh semakin seru.
d) Puncak, yaitu saat puncak
konflik di antara tokoh-tokohnya.
e) Leraian, yaitu saat peristiwa
konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap
f) Akhir, yaitu seluruh
peristiwa atau konflik telah terselesaikan.
Pengaluran,
yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran
dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak
memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar adalah alur yang
memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran
dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang
hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam
karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus
dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa
berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang
melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa
menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran
keduanya.
4) Latar dan Pelataran
Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau
waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar
atau setting dibedakan menjadi latar material dan sosial. Latar material ialah
lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada.
Latar sosial, ialah lukisan tatakrama tingkah laku, adat dan pandangan hidup.
Sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.
5) Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita
dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di sini adalah pribadi yang diciptakan
pengarang untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan
yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga.
Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut,
biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak
terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau
dalang yang serba tahu.
b. Unsur Ekstrinsik
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh
otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra,
dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan
lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat
dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari
luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik,
diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat,
dan lain-lain.
Catatan
: Gambaran
tentang tema, penokohan dan sudut pandang dalam Hikayat
Tema :
memahami tema dalam hikayat biasanya dominan mengenai petualangan, namun ada
juga yang bertema tentang kepahlawanan dan ketuhanan.
Penokohan : penokohan dalam hikayat
biasanya bersifat hitam dan putih, artinya tokoh yang baik biasanya selalu baik
dari awal hingga akhri cerita, tokoh baik memiliki wajah yang sempurna dan
tokoh jahat memiliki tampang yang sesuai dengan karakternya.
Sudut pandang : pencerita biasanya
menempatkan diri sebagai orang ketiga, dengan menggunakan teknik diaan.
4. Contoh Hikayat
Hikayat Si Miskin
Karena sumpah Batara Indera, seorang
raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara
hidupnya. Itulah sebabnya kemudian ia dikenal sebagai si Miskin.
Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya
seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di Negeri Antah
Berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi
selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai
penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang
perjalanan menangislah si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya.
Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki. Demikian
seterusnya.
Ketika isterinya mengandung tiga bulan,
ia menginginkan makan mangga yang ada di taman raja. Si Miskin menyatakan
keberatannya untuk menuruti keinginan isterinya itu, tetapi istri itu makin
menjadi-jadi menangisnya. Maka berkatalah si Miskin, “Diamlah. Tuan jangan
menangis. Biar Kakanda pergi mencari buah mempelam itu. Jikalau dapat, Kakanda
berikan kepada tuan.”
Si Miskin pergi ke pasar, pulangnya
membawa mempelam dan makanan-makanan yang lain. Setelah ditolak oleh isterinya, dengan hati
yang sebal dan penuh ketakutan, pergilah si Miskin menghadap raja memohon
mempelam. Setelah diperolehnya setangkai mangga, pulanglah ia segera. Isterinya
menyambut dengan tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu.
Setelah genap bulannya kandunga itu,
lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah (=anak di dalam
kesukaran) dan diasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Ketika menggali tanah untuk keperluan
membuat teratak sebagai tempat tinggal, didapatnya sebuah tajau yang penuh
berisi emas yang tidak akan habis untuk berbelanja sampai kepada anak cucunya.
Dengan takdir Allah terdirilah di situ sebuah kerajaan yang komplet
perlengkapannya. Si Miskin lalu berganti nama Maharaja Indera Angkasa dan
isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya diberi nama Puspa Sari.
Tidak lama kemudian, lahirlah anaknya yang kedua, perempuan, bernama Nila
Kesuma.
Maharaja Indera Angkasa terlalu adil dan
pemurah sehingga memasyurkan kerajaan Puspa Sari dan menjadikan iri hati bagi
Maharaja Indera Dewa di negeri Antah Berantah.
Ketika Maharaja Indera
Angkasa akan mengetahui pertunangan putra-putrinya, dicarinya ahli-ahli nujum
dari Negeri Antah Berantah.
Atas bujukan jahat dari raja Antah
Berantah, oleh para ahli nujum itu dikatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma
itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja bagi orangtuanya.
Ramalan palsu para ahli nujum itu
menyedihkan hati Maharaja Indera Angkasa. Maka, dengan hati yang berat dan amat
terharu disuruhnya pergi selama-lamanya putra-putrinya itu.
Tidak lama kemudian
sepeninggal putra-putrinya itu, Negeri Puspa Sari musnah terbakar.
Sesampai di tengah hutan, Marakarmah dan
Nila Kesuma berlindung di bawah pohon beringin. Ditangkapnya seekor burung
untuk dimakan. Waktu mencari api ke kampung, karena disangka mencuri,
Marakarmah dipukuli orang banyak, kemudian dilemparkan ke laut. Nila Kesuma
ditemu oleh Raja Mengindera Sari, putera mahkota dari Palinggam Cahaya, yang
pada akhirnya menjadi isteri putera mahkota itu dan bernama Mayang Mengurai.
Akan nasib Marakarmah di lautan,
teruslah dia hanyut dan akhirnya terdampar di pangkalan raksasa yang menawan
Cahaya Chairani (anak raja Cina) yang setelah gemuk akan dimakan. Waktu Cahaya
Chairani berjalan –jalan di tepi pantai, dijumpainya Marakarmah dalam keadaan
terikat tubuhnya. Dilepaskan tali-tali dan diajaknya pulang. Marakarmah dan
Cahaya Chairani berusaha lari dari tempat raksasa dengan menumpang sebuah
kapal. Timbul birahi nahkoda kapal itu kepada Cahaya Chairani, maka didorongnya
Marakarmah ke laut, yang seterusnya ditelan oleh ikan nun yang membuntuti kapal
itu menuju ke Palinggam Cahaya. Kemudian, ikan nun terdampar di dekat rumah Nenek
Kebayan yang kemudian terus membelah perut ikan nun itu dengan daun padi karena
mendapat petunjuk dari burung Rajawali, sampai Marakarmah dapat keluar dengan
tak bercela.
Kemudian, Marakarmah menjadi anak angkat
Nenek Kebayan yang kehidupannya berjual bunga. Marakarmah selalu menolak
menggubah bunga. Alasannya, gubahan bunga Marakarmah dikenal oleh Cahaya
Chairani, yang menjadi sebab dapat bertemu kembali antara suami-isteri itu.
Karena cerita Nenek Kebayan
mengenai putera Raja Mangindera Sari menemukan seorang puteri di bawah pohon
beringin yang sedang menangkap burung, tahulah Marakarmah bahwa puteri tersebut
adiknya sendiri, maka ditemuinyalah. Nahkoda kapal yang jahat itu dibunuhnya.
Selanjutnya, Marakarmah mencari ayah
bundanya yang telah jatuh miskin kembali. Dengan kesaktiannya diciptakannya
kembali Kerajaan Puspa Sari dengan segala perlengkapannya seperti dahulu kala.
Negeri Antah Berantah dikalahkan oleh
Marakarmah, yang kemudian dirajai oleh Raja Bujangga Indera (saudara Cahaya
Chairani).
Akhirnya, Marakarmah pergi ke negeri
mertuanya yang bernama Maharaja Malai Kisna di Mercu Indera dan menggantikan
mertuanya itu menjadi Sultan Mangindera Sari menjadi raja di Palinggam Cahaya. (Sumber:Peristiwa
Sastra Melayu Lama)
a. Unsur Intrinsik dalam hikayat
Si Miskin
1) Tema : Kunci kesuksesan
adalah kesabaran. Perjalanan hidup seseorang yang mengalami banyak rintangan
dan cobaan.
2) Alur : Menggunakan alur maju,
karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai
akhir permasalahan.
3) Setting/ Latar :
a) Setting Tempat : Negeri Antah
Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa,
Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.
b) Setting Suasana : tegang,
mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan.
c) Sudut Pandang Pengarang :
orang ketiga serba tahu.
4) Amanat :
a) Seorang pemimpin yang baik
adalah seorang yang adil dan pemurah.
b) Janganlah mudah terpengaruh
dengan kata-kata oran lain.
c) Hadapilah semua rintangan dan
cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah hati.
d) Jangan memandang seseorang
dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.
e) Hendaknya kita dapat menolong
sesama yang mengalami kesukaran.
f) Janganlah kita mudah menyerah
dalam menghadapi suatu hal.
g) Hidup dan kematian, bahagia
dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani
takdir yang telah ditentukan.
b. Unsur Ekstrinsik dalam
Hikayat Si Miskin
1) Nilai Moral
a) Kita harus bersikap bijaksana
dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.
b) Jangan kita terlalu
memaksakan kehendak kita pada orang lain.
2) Nilai Budaya
a) Sebagai seorang anak kita
harus menghormati orangtua.
b) Hendaknya seorang anak dapat berbakti
pada orang tua.
3) Nilai Sosial
a) Kita harus saling
tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa
pamrih.
b) Hendaknya kita mau berbagi
untuk meringankan beban orang lain.
4) Nilai Religius
a) Jangan mempercayai ramalan
yang belum tentu kebenarannya.
b) Percayalah pada Tuhan bahwa
Dialah yang menentukan nasib manusia.
5) Nilai Pendidikan
a) Kita harus saling
tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa
pamrih.
b) Jangan mempercayai ramalan
yang belum tentu kebenarannya.
1. Definisi Novel
Secara hakiki, novel merupakan karangan prosa
yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan
orang-orang di sekitarnya serta menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Biasanya, cerita dalam novel dimulai dari peristiwa atau kejadian terpenting
yang dialami oleh tokoh cerita, yang kelak mengubah nasib kehidupannya.
2. Ciri-ciri Novel
Ciri-ciri novel antara lain: a) ditulis dengan
gaya narasi, yang terkadang dicampur deskripsi untuk menggambarkan suasana; b)
bersifat realistis, artinya merupakan tanggapan pengarang terhadap situasi
lingkungannya; c) bentuknya lebih panjang, biasanya lebih dari 10.000 kata; dan
d) alur ceritanya cukup kompleks. (Sumber : http://cikapublishing.blogspot.com/)
3. Unsur Instrinsik Dan Ekstrinsik
Novel
a. Unsur Instrinsik
1) Penokohan
Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa
atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Tokoh pada umumnya
berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
2) Alur
Alur merupakan kerangka dasar yang amat penting. Alur
mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana
satu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, bagaimana tokoh
digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu yang semuanya terikat dalam suatu
kesatuan waktu.
3) Latar/Setting
Yang dimaksud dengan setting/latar adalah latar peristiwa
dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki
fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
4)
Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku
dalam cerita yang dipaparkannya. Sudut pandang disebut juga dengan pusat
pengisahan, yaitu posisi dan penobatan diri pengarang dalam ceritanya, atau
darimana pengarang melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu.
5)
Gaya
Gaya adalah cara pengarang menampilkannya dengan menggunakan media bahasa yang indah, harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Gaya adalah cara pengarang menampilkannya dengan menggunakan media bahasa yang indah, harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Sehubungan
dengan pembahasan ini pemberian gaya akan ditinjau melalui dua sudut, yaitu
gaya bahasa dan gaya bercerita, karena pengertian gaya umumnya dapat dirumuskan
sebagai cara pengarang menggambarkan cerita agar cerita lebih menarik dan
berkesan. Hal tersebut erat kaitannya dengan kemampuan pengarang dalam
penulisan cerita dengan penggunaan bahasa, karena cerita pada dasarnya
bermediakan bahasa.
a)
Gaya bahasa
Pengembangan bahasa melalui sastra dikatakan bersifat
pribadi karena sastra itu sendiri merupakan kegiatan yang pribadi dan
perorangan, ia merupakan pengungkapan apa-apa yang menjadi pilihan pribadinya,
hasil seorang sastrawan melihat lingkungannya dan memandang ke dalam dirinya.
b)
Gaya berbicara
Dalam penulisan cerita, biasanya setiap pengarang mempunyai
gaya yang lain daripada yang lain. Pengarang biasa memperhatikan latar tepat
atau waktu sebagai pembuka atau penutup cerita, akan tetapi ada pula yang
menekankan pada tokoh atau penokohannya.
6)
Tema
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga
berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi
yang diciptakannya.
b.
Unsur Ekstrinsik
Unsur
ekstrinsik merupakan unsur dari luar yang turut mempengaruhi terciptanya karya
sastra. Unsur ekstrinsik meliputi biografi pengarang, keadaan masyarakat saat
karya itu dibuat, serta sejarah perkembangan karya sastra. Melalui sebuah karya
novel kita kadang secara jelas dapat memperoleh sedikit gambaran tentang
biografi pengarangnya. Melalui sebuah novel kita pun dapat memperoleh gambaran
tentang budaya dan keadaan masyarakat tertentu saat karya itu dibuat.
Nilai-nilai
dalam karya sastra dapat ditemukan melalui unsur ekstrinsik ini. Seringkali
dari tema yang sama didapat nilai yang berbeda, tergantung pada unsur
ekstrinsik yang menonjol. Misalnya, dua novel sama-sama bertemakan cinta, namun
kedua novel menawarkan nilai yang berbeda karena ditulis oleh dua pengarang
yang berbeda dalam memandang dan menyingkap cinta, latar belakang pengarang
yang berbeda, situasi sosial yang berbeda, dan sebagainya.
Nilai-nilai yang terkandung adalah:
1)
Nilai sosial masyarakat, sifat yang suka memperhatikan
kepentingan umum (menolong, menderma, dan lain-lain).
2)
Nilai budaya Nilai yang berkaitan dengan pikiran, akal budi,
kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat suatu tempat yang menjadi kebiasaan
dan sulit diubah.
3)
Nilai ekonomi Nilai yang berkaitan dengan pemanfaatan dan
asas-asas produksi, distribusi, pemakaian barang, dan kekayaan (keuangan,
tenaga, waktu, industri, dan perdagangan).
4)
Nilai filsafat, hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.
5)
Nilai politik, Nilai yang berkaitan dengan proses mental,
baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku.
6)
Nilai moral (nilai etik) adalah nilai untuk manusia sebagai
pribadi yang utuh, misalnya kejujuran; nilai yang berhubungan dengan akhlak;
nilai yang berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh golongan atau
masyarakat.
7)
Nilai keagamaan adalah konsep mengenai penghargaan tinggi
yang diberikan oleh warga masyarakat pada beberapa masalah pokok dalam
kehidupan keagamaan yang bersifat suci sehingga menjadikan pedoman bagi tingkah
laku warga masyarakat bersangkutan. pandangan pengarang itu diakui sebagai
nilai-nilai kebenaran olehnya dan ingin disampaikan kepada pembaca melalui
karya sastra. Nilai moral dan nilai keagamaan tidak dapat dipisahkan satu
dengan yang lainnya. Pandangan hidup yang berhubungan dengan moral itu
bersumber dari nilai keagamaan. Seseorang bisa dikatakan orang bermoral, karena
orang itu beragama. Moral lebih dekat hubungannya antara manusia dengan
manusia, sedangkan agama hubungannya antara manusia dengan Tuhan.
Novel adalah karangan prosa yang panjang
mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya
dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Istilah novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti kabar atau berita. Adapun ciri khas sebuah novel di antaranya: di dalam sebuah novel terdapat konflik yang mengakibatkan perubahan nasib pada pelakunya menceritakan satu segi kehidupan pelaku jalan ceritanya singkat; hanya mengenai hal-hal yang pokok/garis besarnya.
Istilah novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti kabar atau berita. Adapun ciri khas sebuah novel di antaranya: di dalam sebuah novel terdapat konflik yang mengakibatkan perubahan nasib pada pelakunya menceritakan satu segi kehidupan pelaku jalan ceritanya singkat; hanya mengenai hal-hal yang pokok/garis besarnya.
Hikayat dan novel keduanya merupakan
bentuk karya sastra yang berupa prosa. Bedanya, hikayat merupakan bagian dari
prosa lama sedangkan novel bagian dari prosa baru.
Dalam perkembangannya, kini kita lebih mengenal bentuk novel daripada hikayat. Hikayat merupakan peninggalan sastra Melayu. sementara novel bagian dari perkembangan hasil karya sastra Indonesia. Kini kita banyak mengenal hasil karya novel populer maupun novel yang tergolong karya sastra bahkan novel terjemahan.
Dalam perkembangannya, kini kita lebih mengenal bentuk novel daripada hikayat. Hikayat merupakan peninggalan sastra Melayu. sementara novel bagian dari perkembangan hasil karya sastra Indonesia. Kini kita banyak mengenal hasil karya novel populer maupun novel yang tergolong karya sastra bahkan novel terjemahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar